Lebih dari Sekadar Kapten, Marquinhos Jadi Andalan PSG di Liga Champions

09 May 2026 • 02:29 iMedia

KOLOMBOLA.COM – Kapten Paris Saint-Germain, Marquinhos, nyaris tidak tampil di Ligue 1 pada paruh akhir musim. Namun, ketika Liga Champions memasuki fase krusial, bek asal Brasil itu justru menjadi sosok sentral dalam perjalanan PSG menuju final untuk kedua kalinya secara beruntun.

Luis Enrique tampaknya memang menjadikan Marquinhos sebagai spesialis Liga Champions. PSG dan Bayern Munchen sama-sama datang dari liga domestik yang relatif nyaman, sehingga kedua tim memiliki ruang untuk menjaga kebugaran pemain demi kompetisi Eropa. Situasi itu dimanfaatkan Luis Enrique dengan melakukan rotasi besar terhadap Marquinhos sepanjang musim domestik.

Musim ini, Marquinhos hanya menjadi starter dalam sembilan pertandingan Ligue 1. Bahkan sejak 8 Februari, total menit bermain domestiknya hanya mencapai 90 menit. Menariknya, kondisi itu bukan karena cedera serius. Selain sempat mengalami benturan pada September dan Oktober, ia sejatinya cukup fit sepanjang musim.

PSG memang sengaja menyimpan Marquinhos untuk Liga Champions. Dari total 16 pertandingan PSG di kompetisi tersebut musim ini, ia tampil sebagai starter dalam 14 laga, termasuk 13 pertandingan terakhir secara beruntun.

Strategi itu sempat memunculkan tanda tanya saat PSG menghadapi Bayern Munchen pada leg pertama semifinal. Marquinhos dinilai ikut bertanggung jawab atas dua gol yang dicetak tim Jerman tersebut. Ia dianggap memberi terlalu banyak ruang kepada Michael Olise untuk melepaskan tembakan dari luar kotak penalti, lalu kalah duel dari Luis Diaz sebelum gol tercipta.

Kritik pun mengarah pada minimnya menit bermain di kompetisi domestik yang dianggap bisa memengaruhi ritme pertandingan sang kapten. Risiko kehilangan ketajaman dan kebugaran pertandingan memang selalu ada ketika pemain terlalu sering diistirahatkan.

Namun, keraguan itu seolah terhapus pada leg kedua di Munchen. Marquinhos tampil solid dan membantu PSG meredam tekanan Bayern hampir sepanjang laga. Meski duetnya bersama Willian Pacho juga pantas mendapat pujian, performa Marquinhos tetap menonjol. PSG pun berhasil membatasi pengaruh Harry Kane yang hanya mencetak gol hiburan pada masa injury time.

Kemenangan tersebut membawa PSG lolos ke final Liga Champions untuk musim kedua secara beruntun. Bagi Marquinhos, pencapaian ini menjadi bukti bahwa perannya di PSG jauh lebih besar dari sekadar kapten tim.

Perjalanan karier Marquinhos di PSG juga terbilang unik. Saat didatangkan dari AS Roma pada 2013, ia masih terlihat kurus dan belum memberi kesan sebagai bek tengah yang menakutkan. Pada awal kariernya di Paris, ia lebih sering menjadi tandem Thiago Silva, bahkan sesekali dimainkan sebagai gelandang untuk menyesuaikan kebutuhan tim.

Dalam waktu lama, Marquinhos juga identik dengan PSG era lama yang berkali-kali gagal memenuhi ekspektasi besar di Liga Champions. Klub ibu kota Prancis itu pernah dihuni deretan bintang seperti Zlatan Ibrahimovic, Angel Di Maria, Neymar, Kylian Mbappe, hingga Lionel Messi, tetapi tetap kesulitan menaklukkan Eropa.

Kini, situasinya berubah. PSG tidak lagi sekadar bertumpu pada kumpulan superstar, melainkan membangun tim yang lebih muda dan kolektif. Di tengah transformasi itu, Marquinhos justru menjadi sosok paling penting di ruang ganti. Bek berusia 31 tahun tersebut dipandang sebagai pemimpin ideal untuk skuad PSG saat ini.

iMedia
iMedia adalah penulis di bawah jaringan Inspira Media, sebuah ekosistem media digital yang berfokus pada penyajian berita, opini, dan informasi aktual secara cepat, akurat, dan relevan.

Rekomendasi untuk Anda

Selengkapnya