Analisis Kekalahan Timnas Indonesia U-17 dari Jepang: Celah Taktik Kurniawan Dwi Yulianto Jadi Sorotan

14 May 2026 • 02:20 iMedia

KOLOMBOLA.COM – Timnas Indonesia U-17 harus mengakui keunggulan Jepang U-17 dengan skor 1-3 pada laga fase grup Piala Asia U-17 2026. Tiga gol Samurai Biru dicetak oleh Ryoma Tsuneyoshi pada menit ke-28, Takeshi Wada menit ke-59, dan Arata Okamoto menit ke-71. Sementara itu, satu-satunya gol balasan Garuda Muda lahir lewat Peres Tjoe pada menit ke-70.

Dari pertandingan ini, ada sejumlah catatan menarik terkait strategi dan komposisi yang diterapkan pelatih Kurniawan Dwi Yulianto. Berikut ulasannya.

Pertahankan formasi lama

Timnas Indonesia U-17 kembali menggunakan formasi yang sama seperti dua laga sebelumnya di fase penyisihan. Secara struktur, Garuda Muda tampil dengan skema 5-4-1, terutama saat bertahan.

Formasi ini memang cukup sering dipakai Kurniawan Dwi Yulianto. Sebelum tampil di Piala Asia U-17 2026, Garuda Muda juga pernah memakai pola serupa ketika tampil di Piala AFF U-16 2026.

Secara prinsip, skema ini digunakan untuk menghadapi lawan yang lebih kuat karena memberi tambahan jumlah pemain di lini belakang. Sebaliknya, saat bertemu tim yang setara atau lebih lemah, Indonesia U-17 kerap memakai 4-3-3.

Perombakan komposisi skuad

Yang cukup menonjol dari laga ini adalah perubahan komposisi pemain. Kurniawan melakukan rotasi saat menghadapi Jepang pada partai ketiga.

Di lini pertahanan, Indonesia U-17 menurunkan Zidane Chandra dan Made Arbi, yang sama-sama baru pertama kali tampil di turnamen ini. Mereka bergabung dengan Matthew Baker, Fariq Rizki, dan Pandu Aryo yang sebelumnya sudah lebih sering dimainkan.

Di lini tengah, Alfredo Nugroho juga mendapat kesempatan debut dan bermain bersama Noha Pohan. Sementara itu, sektor depan turut mengalami perubahan dengan hadirnya Fardan Ary yang untuk pertama kalinya tampil di Piala Asia U-17 2026.

Upaya menciptakan peluang

Garuda Muda tetap mengandalkan pola yang selama ini menjadi senjata utama untuk menembus pertahanan lawan, yakni bola mati. Dari skema inilah gol Indonesia lahir, setelah tendangan bebas dari sisi kanan serangan gagal diantisipasi kiper Jepang dan berujung pada gol Peres Tjoe.

Selain bola mati, serangan balik lewat transisi cepat juga menjadi andalan Kurniawan. Namun, hanya ada satu momen saat Indonesia U-17 bisa menembus area depan kotak penalti lawan, dan eksekusinya belum maksimal.

Kelemahan kembali terekspos

Timnas Indonesia U-17 kembali gagal memperbaiki salah satu kelemahan utama mereka di Piala Asia U-17 2026, yaitu kesulitan menghadapi transisi cepat lawan. Masalah ini sebelumnya juga terlihat saat kalah 0-2 dari Qatar U-17.

Pada laga tersebut, Qatar mencetak dua gol melalui skema serangan balik. Saat melawan Jepang, pola serupa kembali menjadi sumber kebobolan untuk gol kedua dan ketiga.

Perbedaannya, transisi cepat Qatar langsung menembus area tengah, sedangkan Jepang lebih banyak menyerang lewat sisi sayap sebelum mengirim umpan silang ke kotak penalti.

Dengan hasil ini, evaluasi terhadap struktur bertahan dan respons terhadap serangan cepat lawan menjadi pekerjaan rumah utama bagi Timnas Indonesia U-17.

iMedia
iMedia adalah penulis di bawah jaringan Inspira Media, sebuah ekosistem media digital yang berfokus pada penyajian berita, opini, dan informasi aktual secara cepat, akurat, dan relevan.

Rekomendasi untuk Anda

Selengkapnya