Statistik Pahit di Balik Gagalnya Arsenal Juara Liga Champions, Rekor Buruk Kembali Menghantui

05 Jun 2026 • 02:36 iMedia

KOLOMBOLA.COM – Arsenal harus menerima kenyataan pahit setelah gagal menjuarai Liga Champions musim 2025/2026. Pada laga final yang berlangsung ketat, The Gunners sempat unggul lebih dulu lewat gol Kai Havertz pada menit kelima, sebelum Paris Saint-Germain menyamakan kedudukan melalui penalti Ousmane Dembele di babak kedua.

Hasil itu terasa semakin menyesakkan jika melihat perjalanan Arsenal sepanjang kompetisi. Tim asuhan Mikel Arteta tampil sangat konsisten dan tidak pernah kalah, baik dalam waktu normal maupun perpanjangan waktu, sebelum akhirnya tumbang di partai puncak.

Menjelang final, Arsenal hanya berada dalam posisi tertinggal selama total 43 menit di sepanjang kampanye Liga Champions musim ini. Catatan tersebut menunjukkan dominasi mereka di Eropa, meski pada akhirnya gagal mengangkat trofi di momen penentuan.

Rekor lain yang selama ini menjadi kekuatan Arsenal juga tidak mampu menyelamatkan mereka. Klub asal London Utara itu hanya sekali kalah dari 117 pertandingan di semua kompetisi ketika unggul saat jeda. Dari jumlah tersebut, Arsenal mencatat 101 kemenangan dan 15 hasil imbang.

Di sisi lain, PSG justru datang dengan catatan yang kurang meyakinkan. Sebelum final, tim asuhan Luis Enrique tidak pernah menang dalam delapan pertandingan musim ini ketika tertinggal pada babak pertama, dengan rincian tiga kali imbang dan lima kali kalah. Namun, tren itu berhasil mereka patahkan di laga final.

Kegagalan ini juga memperpanjang catatan buruk Arsenal di Liga Champions. Musim lalu mereka tersingkir di semifinal, dan PSG kembali menjadi tim yang menghentikan langkah mereka. Hingga kini, Arsenal masih menjadi klub dengan jumlah pertandingan terbanyak di Piala Champions Eropa atau Liga Champions tanpa pernah menjadi juara, yakni 226 laga.

Secara permainan, Arsenal juga tampil di bawah tekanan besar. Sepanjang pertandingan, mereka hanya mencatat satu tembakan tepat sasaran dan lebih banyak bertahan menghadapi dominasi PSG. Data penguasaan bola menunjukkan Arsenal hanya memegang bola rata-rata 24,7 persen selama 120 menit, angka terendah yang pernah dicatat tim finalis Liga Champions sejak musim 2003/2004.

Salah satu momen paling disorot adalah kegagalan Gabriel dalam adu penalti. Saat Arsenal wajib mencetak gol untuk menjaga asa, bek asal Brasil itu melepaskan tendangan yang melambung di atas mistar. Ia tercatat sebagai pemain pertama yang gagal mengeksekusi penalti di final Liga Champions dengan tendangan melambung sejak Serginho pada final 2005.

Ironisnya, penalti tersebut merupakan eksekusi pertama Gabriel untuk Arsenal sejak bergabung dengan klub.

Meski gagal membawa pulang trofi Liga Champions, Arsenal tetap menutup musim dengan sejumlah pencapaian positif. Mereka berhasil mengakhiri penantian 22 tahun untuk kembali menjuarai liga domestik dan tampil impresif secara keseluruhan.

Mikel Arteta meminta timnya menjadikan kekalahan ini sebagai bahan bakar untuk berkembang lebih jauh. Ia menegaskan bahwa rasa sakit akibat kekalahan harus diolah menjadi motivasi agar Arsenal bisa mencapai level yang lebih tinggi pada masa mendatang.

Arteta juga memberi pujian kepada PSG yang dinilainya sebagai tim terbaik di dunia saat ini. Dengan skuad yang masih muda dan pengalaman berharga dari dua musim terakhir di Liga Champions, Arsenal diyakini tetap akan menjadi penantang serius dalam perburuan gelar Eropa pada musim-musim berikutnya.

iMedia
iMedia adalah penulis di bawah jaringan Inspira Media, sebuah ekosistem media digital yang berfokus pada penyajian berita, opini, dan informasi aktual secara cepat, akurat, dan relevan.

Rekomendasi untuk Anda

Selengkapnya