Harga Tiket Piala Dunia 2026 Melonjak, Efek Main di Amerika Serikat?

05 Jun 2026 • 02:34 iMedia

KOLOMBOLA.COM – Harga tiket Piala Dunia 2026 menjadi sorotan karena dinilai semakin mahal dan tak lagi mudah dijangkau suporter biasa. Sejumlah pengamat menilai lonjakan harga ini tidak bisa dilepaskan dari karakter pasar olahraga di Amerika Serikat, yang memang berbeda dengan Eropa.

Mantan CEO Liverpool, Peter Moore, mengatakan ada beberapa faktor yang mendorong kenaikan harga tiket pertandingan di era modern. Menurutnya, gaji atlet profesional meningkat tajam sejak era kebebasan transfer pemain, ditambah kontrak siaran televisi bernilai besar dan eksposur media global yang terus berkembang.

Moore menjelaskan, klub dan penyelenggara kini harus menanggung biaya operasional yang jauh lebih besar dibanding beberapa dekade lalu. Selain itu, stadion modern tidak lagi sekadar tempat menonton pertandingan, melainkan sudah berubah menjadi pusat hiburan dengan fasilitas premium dan investasi bernilai sangat besar.

“Biaya-biaya itu pada akhirnya diteruskan kepada konsumen,” ujar Moore.

Ia menambahkan, pengalaman menonton langsung kini dipasarkan sebagai produk premium. Suporter tidak hanya membeli akses ke pertandingan, tetapi juga atmosfer eksklusif, teknologi modern, kenyamanan stadion, serta layanan tambahan lainnya.

Di sisi lain, pakar pariwisata olahraga dari University of Central Florida, Alan Fyall, menilai budaya menonton di Amerika Serikat juga berbeda dengan Eropa. Banyak penonton di Amerika memandang hari pertandingan sebagai paket hiburan lengkap, mulai dari sebelum laga, makanan, minuman, pertunjukan, merchandise, hingga aktivitas pendukung lain.

“Amerika memiliki aturan tidak tertulis, bahwa saya akan membayar, tetapi Anda harus menghibur saya,” kata Fyall.

Fyall juga menilai suporter di Amerika cenderung lebih selektif. Mereka umumnya tidak terbiasa dengan budaya mendukung tim yang terus kalah. Selain itu, jumlah pertandingan kandang yang lebih sedikit membuat setiap laga memiliki nilai lebih tinggi bagi penonton.

Contohnya, tim NFL hanya memainkan delapan atau sembilan laga kandang dalam satu musim. Kondisi ini membuat suporter lebih rela membayar mahal untuk satu pertandingan dibanding penggemar sepak bola Eropa yang memiliki lebih banyak laga kandang dalam semusim.

Faktor lain yang ikut mendorong kenaikan harga adalah dynamic pricing, yaitu sistem harga tiket yang berubah secara real time mengikuti permintaan pasar. Mekanisme ini membuat harga tiket bisa naik cepat dalam hitungan menit, terutama untuk laga besar, derby, akhir pekan, atau pertandingan penentuan.

Moore menilai teknologi membuat sistem penetapan harga menjadi lebih agresif dan canggih. Sementara itu, Fyall menyebut platform penjualan kembali tiket juga ikut memperbesar inflasi harga.

“Dalam banyak hal, perusahaan penjualan kembali tiket membuat pasar menjadi lebih mahal,” ujarnya.

Menurut Fyall, praktik calo yang dulu dilakukan secara manual di sekitar stadion kini beralih ke platform digital. Kemunculan layanan jual-beli tiket online membuat proses tersebut semakin mudah dan sulit dihentikan.

iMedia
iMedia adalah penulis di bawah jaringan Inspira Media, sebuah ekosistem media digital yang berfokus pada penyajian berita, opini, dan informasi aktual secara cepat, akurat, dan relevan.

Rekomendasi untuk Anda

Selengkapnya