Krisis Hak Siar Piala Dunia 2026, FIFA Dikabarkan Turunkan Harga di India dan China
KOLOMBOLA.COM – FIFA disebut menghadapi tantangan besar dalam penjualan hak siar Piala Dunia 2026 di India dan China. Di dua pasar besar itu, nilai kontrak yang diharapkan federasi sepak bola dunia tersebut dinilai terlalu tinggi sehingga proses negosiasi berjalan alot.
Situasi ini menjadi pukulan bagi FIFA yang sebelumnya memperluas jumlah peserta turnamen menjadi 48 tim demi memperbesar jangkauan global. Tanpa kontrak penyiaran, sekitar 2,7 miliar penduduk di India dan China berpotensi tidak mendapatkan akses untuk menyaksikan 104 pertandingan Piala Dunia 2026.
FIFA sempat memasang harga tinggi untuk hak siar, tetapi posisi tawar mereka kini melemah. Kondisi tersebut memunculkan kekhawatiran terhadap nilai komersial turnamen di pasar internasional.
Pasar India yang Lesu
Di India, nilai hak siar yang diminta FIFA dilaporkan turun menjadi sekitar 35 juta dolar AS. Angka itu jauh di bawah kesepakatan sebelumnya, ketika Viacom18 membayar 62 juta dolar AS untuk hak siar Piala Dunia 2022 di Qatar.
Rendahnya persaingan di industri penyiaran olahraga India disebut menjadi salah satu penyebab utama mandeknya negosiasi. Di sisi lain, dominasi kriket membuat minat investor terhadap sepak bola cenderung terbatas.
“Waktu pertandingan bisa dijadikan alasan, tapi masyarakat India tetap menonton Liga Champions yang tayang pada jam serupa,” ujar Shaji Prabhakaran, anggota komite eksekutif AFC.
“Masalah utamanya adalah tidak ada kompetisi nyata di pasar penyiaran olahraga India saat ini, karena kriket tetap menjadi fokus primer bagi mereka,” tambah mantan Sekretaris Jenderal AIFF itu.
Kendala Finansial dan Minat di China
Situasi serupa juga terjadi di China, meski dengan skala berbeda. FIFA dilaporkan mematok harga antara 250 juta hingga 300 juta dolar AS untuk hak siar di negara tersebut.
Namun, CCTV sebagai pemegang hak siar tradisional hanya menyiapkan anggaran sekitar 60 juta hingga 80 juta dolar AS. Kesenjangan nilai yang lebar itu membuat proses pembicaraan berlangsung sangat alot.
Perbedaan zona waktu 12 jam dengan lokasi pertandingan juga menjadi hambatan bagi pengiklan. Ditambah lagi, performa tim nasional China yang belum kompetitif turut menurunkan minat publik.
FIFA kini dihadapkan pada pilihan sulit antara menjaga nilai komersial turnamen atau memperluas akses penonton. Harga yang terlalu tinggi berisiko membuat hak siar tak terserap, sedangkan penurunan harga yang terlalu jauh bisa melemahkan citra produk.
“Harus selalu ada keseimbangan. Nilai produk harus dilindungi atau akan ada konsekuensi panjang bagi organisasi,” kata Prabhakaran.
Ia juga menilai FIFA perlu berhati-hati agar penurunan harga di India dan China tidak menjadi preseden bagi pasar lain di masa depan.
Delegasi FIFA Turun Tangan
FIFA dikabarkan telah mengirim delegasi tingkat tinggi ke Beijing untuk melakukan negosiasi darurat. Sejumlah pihak memperkirakan kesepakatan akan tercapai jika ada penyesuaian harga yang signifikan.
Meski peluang untuk mencapai kesepakatan masih terbuka, kondisi ini menjadi sinyal peringatan bagi FIFA. Jika India dan China berhasil menekan harga, pasar lain bisa mengikuti pola serupa dalam negosiasi berikutnya.
“Saya memprediksi kesepakatan di India mungkin akan memakan waktu sekitar dua minggu lagi sebelum benar-benar tuntas,” ujar Prabhakaran.
“Infantino harus segera menyelesaikan ini karena tidak punya pilihan selain membuat kesepakatan dengan dua negara yang menguasai sepertiga populasi dunia tersebut,” pungkasnya.
Rekomendasi untuk Anda
Selengkapnya
