Dicoret dari Timnas Inggris, Phil Foden dan Cole Palmer Jadi Korban Ketegasan Thomas Tuchel

22 May 2026 • 14:23 iMedia

KOLOMBOLA.COM – Keputusan Thomas Tuchel mencoret Phil Foden dan Cole Palmer dari skuad Timnas Inggris menegaskan konsistensi filosofi yang sejak awal ia pegang selama menangani The Three Lions.

Sejak awal menukangi Inggris, pelatih asal Jerman itu berulang kali menegaskan bahwa dirinya tidak sekadar ingin mengumpulkan pemain bertalenta. Tuchel lebih menekankan pembentukan tim yang sesuai dengan sistem dan kebutuhan permainan.

Sikap itu sebenarnya sudah terlihat sejak Oktober tahun lalu ketika ia sempat tidak memanggil Jude Bellingham. Keputusan tersebut sempat memicu perdebatan besar di Inggris.

Tuchel bahkan menegaskan bahwa seorang pelatih harus konsisten dengan prinsip yang diucapkannya. “Untuk menjaga kredibilitas sebagai pelatih, Anda harus membuktikan ucapan Anda,” kata Tuchel di Wembley pada 3 Oktober lalu.

Dalam pemilihan skuad menuju Piala Dunia, filosofi itu kembali terlihat. Tuchel tidak hanya memilih pemain yang paling terkenal atau dianggap paling berbakat, melainkan mereka yang dinilai paling efektif dalam sistemnya.

Nama Phil Foden menjadi salah satu pencoretan paling mengejutkan. Gelandang Manchester City itu punya reputasi besar di level klub, dengan koleksi enam gelar Premier League, satu Liga Champions, dan penghargaan Pemain Terbaik Inggris.

Namun, performa Foden bersama Timnas Inggris dinilai belum pernah benar-benar maksimal. Selain penampilan impresifnya saat semifinal Euro 2024 melawan Belanda, ia kesulitan menunjukkan kualitas terbaik di level internasional.

Tuchel sebenarnya sempat berusaha mencari posisi ideal untuk Foden. Ia mencoba memainkan sang pemain sebagai nomor 10 hingga false nine ketika Harry Kane absen. Pelatih asal Jerman itu menyukai pergerakan tajam dan kemampuan Foden dalam menusuk pertahanan lawan.

Meski begitu, eksperimen tersebut tidak berjalan sesuai harapan. Dalam kekalahan 0-1 Inggris dari Jepang pada 31 Maret lalu, Foden dimainkan bersama Palmer sebagai duet nomor 10, tetapi keduanya gagal memberi pengaruh besar.

Usai laga itu, Tuchel mengakui bahwa Foden masih kesulitan memberi dampak penuh untuk Inggris. “Tidak ada jaminan dia akan ikut,” ujar Tuchel saat itu.

Situasi Cole Palmer juga tidak jauh berbeda. Dalam dua musim terakhir, performa Palmer di level klub bahkan dinilai lebih konsisten dibanding Foden. Namun, kontribusinya bersama Inggris belum cukup meyakinkan di mata Tuchel.

Palmer baru tampil tiga kali sejak pelatih asal Jerman itu mengambil alih tim nasional. Ia sempat menjadi starter melawan Andorra di Barcelona tahun lalu, tampil sebagai pemain pengganti saat menghadapi Uruguay, lalu ikut dalam eksperimen bersama Foden melawan Jepang.

Selain itu, Palmer juga melewatkan seluruh agenda tim nasional pada musim gugur lalu. Kondisi tersebut membuat Tuchel merasa belum memiliki cukup bukti untuk mengandalkannya di Piala Dunia.

Padahal, saat Tuchel pertama kali ditunjuk sebagai pelatih Inggris, banyak pihak meyakini ia akan mampu memaksimalkan kombinasi Foden dan Palmer. Keduanya dianggap sebagai simbol generasi emas teknik sepak bola Inggris modern, sekaligus sama-sama berkembang melalui sistem Manchester City dan kelompok umur Inggris.

Namun, menurut Tuchel, reputasi besar saja tidak cukup.

Perebutan tempat di posisi nomor 10 memang menjadi salah satu area tersulit dalam skuad Inggris saat ini. Tuchel bahkan sempat mengakui kecil kemungkinan dirinya membawa terlalu banyak pemain dengan karakter serupa.

Di sisi lain, beberapa pemain lain justru dinilai memberi dampak lebih besar. Morgan Rogers menjadi salah satu nama yang paling diuntungkan, terutama karena penampilan Inggris di era Tuchel disebut paling baik ketika ia dimainkan di belakang striker.

Selain Rogers, Jude Bellingham juga dianggap mampu memberi kontribusi yang lebih konsisten sejak Tuchel menangani tim nasional. Menariknya, pada awal masa kepelatihan Tuchel, banyak yang mempertanyakan kecocokan Bellingham dengan sistem sang pelatih. Kini situasinya justru berbalik.

Pada akhirnya, bukan Bellingham yang tersingkir. Justru Phil Foden dan Cole Palmer yang harus menerima kenyataan pahit di tengah ketatnya persaingan menuju skuad Timnas Inggris.

iMedia
iMedia adalah penulis di bawah jaringan Inspira Media, sebuah ekosistem media digital yang berfokus pada penyajian berita, opini, dan informasi aktual secara cepat, akurat, dan relevan.

Rekomendasi untuk Anda

Selengkapnya