Taktik PSG Bikin Bayern Kesulitan: Matvey Safonov Sengaja Arahkan Bola ke Area Michael Olise

09 May 2026 • 02:29 iMedia

KOLOMBOLA.COM – PSG tampil sangat disiplin saat menghadapi Bayern Munchen pada leg kedua di Allianz Arena. Setelah unggul cepat lewat gol Ousmane Dembele pada menit ketiga, tim asal Prancis itu fokus menjaga organisasi pertahanan sambil sesekali mengancam lewat transisi cepat.

Salah satu hal menarik dari laga tersebut adalah pendekatan PSG dalam membatasi pergerakan Michael Olise. PSG terlihat sengaja memadati sisi kanan permainan Bayern, yang menjadi area utama operasi winger berusia 24 tahun itu.

Meski Nuno Mendes sempat menerima kartu kuning lebih awal, Olise tetap kesulitan memanfaatkan situasi satu lawan satu. Setiap kali menerima bola, ia langsung mendapat tekanan ganda dari pemain PSG.

Peran Matvey Safonov juga menjadi bagian penting dari strategi itu. Kiper asal Rusia tersebut berulang kali mengarahkan goal kick ke sisi kiri dari perspektif PSG, yang membuat bola jatuh di area Olise.

Secara statistik, akurasi umpan Safonov memang terlihat kurang baik dibanding Manuel Neuer. Berdasarkan data SofaScore, ia hanya mencatat enam umpan panjang akurat dari total 32 percobaan di Allianz Arena.

Namun, angka itu diduga bukan semata-mata karena kesalahan teknik. PSG tampak sengaja rela kehilangan penguasaan bola demi menciptakan situasi pressing yang sudah mereka rencanakan sebelumnya.

PSG juga tidak hanya mengandalkan skema goal kick. Dari situasi kick-off dan bola panjang lain, mereka beberapa kali sengaja mengarahkan bola keluar lapangan di area dekat bendera sudut.

Menurut analisis Football TacticDive di YouTube, pola tersebut merupakan bagian dari sistem pressing yang diterapkan Luis Enrique. PSG disebut sengaja memaksa Bayern memulai serangan dari lemparan ke dalam di area sempit.

“Ini jebakan, dan direncanakan dengan brilian. Ada kelemahan tersembunyi dalam lemparan ke dalam. Tidak seperti umpan biasa, Anda tidak dapat menggerakkan bola dengan cepat atau jarak jauh,” ujar analis tersebut.

“Pemain yang mengambilnya terbatas, sudutnya sempit, tempo melambat, dan sulit untuk membangun sesuatu yang berarti,” lanjutnya.

“Dan itulah yang diandalkan PSG. Dengan memaksa lawan untuk memulai kembali permainan dengan lemparan ke dalam jauh di wilayah mereka sendiri, PSG menciptakan peluang sempurna untuk melancarkan tekanan tinggi mereka,” tambahnya.

Pendekatan itu membuat Bayern Munchen kesulitan membangun serangan dengan ritme normal. Michael Olise yang biasanya menjadi ancaman utama pun gagal memberi dampak signifikan karena ruang dan waktunya terus dipersempit PSG sepanjang laga.

Hasil ini sekaligus menunjukkan betapa rapi dan detailnya rencana permainan PSG di bawah Luis Enrique, terutama dalam mematikan sumber serangan Bayern sejak dari fase awal pembangunan serangan.

iMedia
iMedia adalah penulis di bawah jaringan Inspira Media, sebuah ekosistem media digital yang berfokus pada penyajian berita, opini, dan informasi aktual secara cepat, akurat, dan relevan.

Rekomendasi untuk Anda

Selengkapnya