Tembus Dua Final Liga Champions Beruntun, PSG Mulai Bangun Dinasti

09 May 2026 • 02:29 iMedia

KOLOMBOLA.COM – Kemenangan agregat atas Bayern Munchen terasa spesial bagi Paris Saint-Germain (PSG). Tidak hanya karena mereka tampil agresif seperti pada leg pertama, tetapi juga karena menunjukkan kedewasaan taktik dan ketahanan mental di Allianz Arena.

PSG kini mulai mengikuti jejak klub-klub besar Eropa yang pernah membangun dinasti di Liga Champions. Sejak kompetisi ini berformat Liga Champions pada 1992, hanya Real Madrid yang mampu mempertahankan trofi, yakni saat menjuarai tiga final beruntun pada 2016 hingga 2018. Sebelum itu, AC Milan menjadi contoh terakhir tim yang meraih gelar beruntun pada 1989 dan 1990.

Di era European Cup, sejumlah klub juga pernah menciptakan dominasi, seperti Nottingham Forest, Liverpool, Bayern Munchen, dan Ajax. Kini, PSG berada di ambang kelompok elite tersebut berkat perjalanan mereka musim ini yang konsisten dan penuh kualitas.

Banyak pihak bahkan mulai membandingkan PSG dengan Real Madrid era Zidane yang diperkuat Cristiano Ronaldo, Gareth Bale, dan para bintang lain. Alasannya, PSG dinilai mampu mengontrol pertandingan dalam berbagai situasi.

Pada leg pertama semifinal, PSG menang dramatis 5-4 dalam laga terbuka yang penuh serangan. Namun, pada leg kedua di Allianz Arena, mereka tampil dengan pendekatan berbeda. PSG bermain lebih pragmatis, langsung mencetak gol cepat melalui Ousmane Dembele, lalu menjaga keunggulan dengan disiplin pertahanan yang rapi.

Bayern yang sepanjang musim tampil produktif dibuat frustrasi. Serangan yang biasa mengandalkan Harry Kane, Luis Diaz, dan Michael Olise kerap mentok saat memasuki area berbahaya. Ketika Bayern menaikkan intensitas tekanan, PSG tetap tenang dan hampir selalu menempatkan banyak pemain di belakang bola untuk menutup ruang.

Gol Kane memang sempat memberi harapan bagi Bayern, tetapi tidak cukup mengubah hasil akhir pertandingan. Selain momen itu, lini belakang PSG tampil solid sepanjang laga.

Meski bermain lebih defensif dibandingkan pertemuan pertama, laga tetap berlangsung dalam tempo tinggi dan menyajikan kualitas permainan yang baik. PSG membuktikan bahwa mereka kini mampu menang dengan berbagai pendekatan, bukan hanya lewat permainan menyerang.

Faktor lain yang membuat PSG semakin menjanjikan adalah komposisi skuad mereka yang masih muda. Rata-rata usia pemain inti hanya 24 tahun. Hanya ada tiga pemain utama yang berusia di atas 28 tahun, yakni Fabian Ruiz, Lucas Hernandez, dan kapten Marquinhos.

Kondisi tersebut membuat PSG berpotensi terus berkembang dalam beberapa tahun ke depan. Mayoritas pemain inti mereka masih berada dalam fase peningkatan performa, sehingga fondasi untuk membangun era dominasi baru di Eropa semakin terlihat.

PSG sudah mencapai level yang sangat tinggi. Kini, mereka memburu sesuatu yang lebih besar: status sebagai dinasti baru di Eropa.

iMedia
iMedia adalah penulis di bawah jaringan Inspira Media, sebuah ekosistem media digital yang berfokus pada penyajian berita, opini, dan informasi aktual secara cepat, akurat, dan relevan.

Rekomendasi untuk Anda

Selengkapnya