6 Pelajaran Timnas Indonesia U-17 Usai Lawan Malaysia U-17: Finishing Masih Jadi Pekerjaan Rumah, Set Piece Jadi Ironi
KOLOMBOLA.COM – Laga Malaysia U-17 kontra Timnas Indonesia U-17 di Stadion Gelora Joko Samudro berlangsung sengit. Garuda Muda tampil agresif, tetapi kesulitan menembus rapatnya pertahanan Harimau Malaya pada babak pertama.
Malaysia justru lebih dulu mencetak gol melalui sundulan M. Fareez Danial yang memanfaatkan sepak pojok. Indonesia tampil lebih baik pada babak kedua, namun tetap gagal memaksimalkan peluang yang didapat. Di sisi lain, Malaysia beberapa kali mengancam lewat serangan balik sebelum akhirnya Indonesia takluk 0-1.
Dari pertandingan tersebut, ada enam pelajaran penting yang bisa dipetik Timnas Indonesia U-17.
1. Set piece jadi ironi
Pelatih Timnas Indonesia U-17, Kurniawan Dwi Yulianto, sebelumnya sudah memperkirakan Malaysia akan bermain bertahan. Karena itu, ia menyiapkan skema untuk mencetak gol lewat bola mati, mulai dari lemparan ke dalam, tendangan bebas, hingga sepak pojok.
Indonesia memang sempat mendapatkan sejumlah peluang dari situasi tersebut, tetapi gagal mengubahnya menjadi gol. Ironisnya, justru Indonesia kebobolan dari skema sepak pojok setelah sundulan Fareez Danial mengarah ke tiang jauh dan berbuah gol.
2. Kurang kreativitas saat menyerang
Pada babak pertama, Indonesia terus menekan pertahanan Malaysia. Serangan banyak dibangun dari sisi kiri, tetapi tidak cukup efektif. Upaya dari sisi kanan juga belum memberi hasil maksimal.
Saat serangan sayap buntu, Indonesia mencoba mengirim umpan lambung dari lini tengah. Namun, pola ini juga belum mampu membongkar pertahanan Malaysia. Performa Garuda Muda membaik di babak kedua, tetapi secara keseluruhan mereka masih kesulitan menciptakan peluang bersih.
3. Rentan terhadap serangan balik
Malaysia yang memilih bertahan tetap berbahaya lewat transisi cepat. Serangan balik mereka beberapa kali merepotkan lini belakang Indonesia.
Jika para penyerang Malaysia tampil lebih klinis, skor bisa saja menjadi lebih besar. Situasi ini menjadi pekerjaan rumah penting bagi tim pelatih untuk memperbaiki organisasi pertahanan.
4. Finishing masih jadi masalah utama
Indonesia memperoleh beberapa peluang pada babak kedua, termasuk saat laga baru berjalan kurang dari semenit. Sean Rahman Kastor sempat lolos ke kotak penalti, tetapi gagal menuntaskan peluang saat berhadapan langsung dengan kiper.
Indonesia juga memiliki dua peluang dari kreativitas Chicho Jericho Yarangga. Namun, kesempatan tersebut belum bisa dikonversi menjadi gol. Masalah penyelesaian akhir ini tampak berlanjut dari laga sebelumnya melawan Timor Leste U-17.
5. Emosi perlu lebih dikendalikan
Di babak kedua, sejumlah pemain Indonesia terlihat mulai kehilangan kontrol emosi. Situasi itu muncul saat pemain Malaysia mengulur waktu dengan cara rebahan usai benturan atau sengaja menendang bola setelah peluit pelanggaran dibunyikan.
Beberapa pemain Indonesia tampak terpancing. Kondisi ini harus segera dibenahi agar para pemain tetap fokus dan tidak terganggu oleh provokasi lawan.
6. Chicho Jericho tampil menonjol
Salah satu hal positif dari laga ini adalah performa Chicho Jericho Yarangga. Masuk sebagai pemain pengganti, ia memberi warna baru di sisi kanan serangan Indonesia.
Chicho tampil lincah dengan dribel yang merepotkan lawan. Ia juga menciptakan setidaknya dua peluang, masing-masing melalui umpan silang akurat dan aksi individu yang diakhiri umpan tarik. Penampilannya bisa menjadi pertimbangan untuk masuk dalam starter saat menghadapi Vietnam U-17.
Hasil ini membuat Timnas Indonesia U-17 perlu segera berbenah, terutama dalam urusan finishing, disiplin bertahan, dan pengendalian emosi sebelum laga berikutnya.
Rekomendasi untuk Anda
Selengkapnya
