Banyak yang Ragukan Liverpool, tetapi Anfield Punya Cerita Berbeda

16 Apr 2026 • 14:48 iMedia

KOLOMBOLA.COM – Peluang Liverpool memang tidak sepenuhnya berpihak saat menjamu Paris Saint-Germain pada laga yang digelar nanti malam pukul 02.00 WIB. Namun, situasi seperti ini bukan hal asing bagi tim asal Merseyside tersebut.

PSG datang ke Anfield dengan kepercayaan diri tinggi setelah unggul dua gol pada leg pertama babak perempat final Liga Champions. Status mereka sebagai juara Eropa musim lalu dan salah satu kekuatan utama di sepak bola benua biru membuat banyak pihak memprediksi tim asuhan Luis Enrique akan melangkah ke semifinal.

Secara hitung-hitungan, PSG memang berada di atas angin. Mereka tampil meyakinkan di leg pertama dan kini hanya membutuhkan hasil imbang untuk mengamankan tiket ke fase berikutnya. Namun, Anfield kerap menghadirkan cerita berbeda.

Pelatih PSG Luis Enrique tentu paham betul atmosfer stadion ini. Ia pernah merasakan langsung tekanan tribun The Kop, dan kini harus menghadapinya sebagai pelatih. Dalam situasi seperti ini, hasil imbang tanpa gol memang cukup bagi tim tamu. Tetapi jika Liverpool mampu memulai laga dengan tempo tinggi dan membuat pertandingan berjalan liar, keunggulan dua gol PSG bisa saja menguap dengan cepat.

Sejarah menunjukkan Liverpool bukan tim yang mudah menyerah di kompetisi Eropa. Salah satu contoh paling ikonik terjadi saat mereka menaklukkan Borussia Dortmund 4-3 di Anfield pada perempat final Liga Europa sekitar satu dekade lalu. Setelah kalah 1-3 di leg pertama, Liverpool sempat tertinggal dua gol lebih dulu sebelum bangkit lewat gol-gol Philippe Coutinho, Mamadou Sakho, dan Dejan Lovren.

Kemenangan dramatis itu menjadi salah satu bukti paling kuat bahwa Anfield sering melahirkan keajaiban. Dalam banyak kesempatan lain, Liverpool juga pernah membalikkan keadaan. Mereka menyingkirkan Auxerre pada 1991 setelah kalah di leg pertama, lalu kembali menunjukkan mental kuat saat menghadapi Olympiacos pada 2005 lewat gol penentu Steven Gerrard.

Nama Liverpool juga identik dengan momen besar di Liga Champions. Kemenangan 4-0 atas Barcelona pada 2019 tetap dikenang sebagai salah satu comeback paling spektakuler dalam sejarah kompetisi, setelah sebelumnya kalah 0-3 di Camp Nou.

Semua kisah itu memiliki benang merah yang sama: keyakinan. Hal itulah yang diharapkan kembali muncul di kubu Liverpool kali ini.

Arne Slot diyakini akan menurunkan susunan pemain terbaik. Namun, yang lebih penting bukan hanya soal taktik atau komposisi pemain, melainkan kepercayaan bahwa tim ini mampu membalikkan keadaan.

Para pemain harus percaya, staf harus percaya, dan suporter di stadion juga harus percaya, meski musim ini berjalan tidak sesuai harapan. Tanpa keyakinan, tim hanya akan menjadi pelengkap. Dengan keyakinan, hasil besar bukan sesuatu yang mustahil di Anfield.

PSG datang sebagai favorit, tetapi Liverpool punya sejarah panjang dalam membalikkan prediksi. Dan di Anfield, cerita seperti itu masih mungkin terulang.

iMedia
iMedia adalah penulis di bawah jaringan Inspira Media, sebuah ekosistem media digital yang berfokus pada penyajian berita, opini, dan informasi aktual secara cepat, akurat, dan relevan.

Rekomendasi untuk Anda

Selengkapnya