Cole Palmer Gagal ke Piala Dunia, Ini Alasan di Balik Keputusan Thomas Tuchel

05 Jun 2026 • 02:34 iMedia

KOLOMBOLA.COM – Keputusan Thomas Tuchel tidak memasukkan Cole Palmer ke skuad Piala Dunia memang memunculkan perdebatan. Namun, di balik keputusan tersebut terdapat sejumlah alasan yang sulit dibantah, mulai dari penurunan performa, masalah cedera, hingga ketatnya persaingan di lini serang timnas Inggris.

Tuchel sendiri tidak menutupi alasan di balik pencoretan bintang Chelsea itu. Pelatih asal Jerman tersebut menegaskan bahwa kontribusi Palmer sepanjang musim belum cukup meyakinkan untuk mengamankan tempat di turnamen terbesar dunia.

Jika dilihat sepintas, absennya Palmer bisa dianggap mengejutkan. Ia sempat menempati posisi kedelapan dalam pemungutan suara Ballon d’Or tahun lalu, jauh di atas Harry Kane yang finis di peringkat ke-13. Namun, performanya pada musim 2025/2026 tidak menunjukkan status sebagai salah satu pemain terbaik dunia.

Tuchel menilai kontribusi Palmer, baik di Chelsea maupun tim nasional Inggris, belum cukup kuat untuk membuatnya otomatis masuk skuad Piala Dunia. Persaingan di posisi nomor 10 juga sangat ketat, dengan Jude Bellingham, Morgan Rogers, dan Eberechi Eze tampil lebih konsisten.

“Catatannya bersama kami tidak luar biasa, tidak cukup bagus untuk membuat kami berkata bahwa apa pun yang terjadi dia harus ikut,” kata Tuchel.

“Ini keputusan yang sangat sulit. Tidak ada keraguan soal bakatnya dan tidak ada keraguan soal apa yang bisa dia berikan dalam momen-momen spesial, tetapi keputusan akhirnya tetap tidak berpihak kepadanya,” lanjutnya.

Statistik bersama Chelsea juga menunjukkan penurunan yang cukup tajam. Palmer hanya mencetak 10 gol di Premier League, dan lima di antaranya berasal dari titik penalti. Ia baru mencapai dua digit gol pada laga terakhir musim melawan Sunderland.

Lebih mengkhawatirkan lagi, Palmer hanya mencatatkan satu assist di liga sepanjang musim. Angka itu jauh menurun dibanding dua musim pertamanya di Stamford Bridge, saat ia membukukan total 19 assist.

Penurunan juga terlihat dalam kontribusi kreatifnya. Rata-rata peluang yang ia ciptakan turun dari 2,5 per laga menjadi 1,1, sedangkan jumlah umpan silang per pertandingan merosot dari 4,1 menjadi 1,7. Area kanan half-space yang biasanya menjadi sumber kreativitasnya pun tak lagi memberi dampak sebesar sebelumnya.

Salah satu faktor penting di balik penurunan itu adalah cedera selangkangan. Dalam wawancara dengan The Guardian pada April lalu, Palmer mengakui mengalami cedera yang belum pernah ia rasakan sebelumnya. Kondisi tersebut membuat pergerakannya sangat terganggu.

Ia bahkan menyebut sempat nyaris tak bisa bergerak saat menghadapi Manchester United pada September. Saat kembali bermain sebagai pemain pengganti melawan Leeds United pada Desember, kondisinya pun belum sepenuhnya pulih.

Menurut Palmer, cedera itu membuatnya tak bisa berlari cepat, melepaskan tembakan dengan maksimal, atau mengirim umpan jauh seperti biasanya. Situasi tersebut sempat memunculkan kemungkinan operasi sebagai solusi terbaik. Jika benar diperlukan, musim panas ini bisa menjadi kesempatan pertamanya dalam tiga tahun untuk beristirahat total dan menjalani pemulihan penuh.

Sebelum itu, Palmer terus tampil di berbagai turnamen besar, mulai dari Euro U-21 2023, Euro 2024, hingga Piala Dunia Antarklub FIFA 2025. Menariknya, ia selalu mencetak gol atau memberikan assist di final ketiga ajang tersebut.

Meski musimnya menurun, banyak pihak masih percaya kualitas Palmer belum hilang. Ia tetap dianggap sebagai salah satu talenta terbaik Inggris dan pemain yang bisa tampil menentukan di laga besar. Hal itu sempat terlihat saat Chelsea mengalahkan PSG 3-0 pada final Piala Dunia Antarklub musim panas lalu, ketika Palmer menjadi salah satu aktor utama kemenangan tersebut.

Kini, kebangkitan Palmer sangat bergantung pada proyek baru Chelsea bersama Xabi Alonso. Pelatih anyar The Blues itu diperkirakan memegang peran besar dalam upaya mengembalikan performa Palmer ke level terbaik.

Gaya bermain Chelsea pada era Enzo Maresca disebut kurang ideal bagi Palmer. Skema penguasaan bola yang lambat dan sangat terstruktur kerap membatasi ruang kreativitasnya. Di sisi lain, perubahan komposisi pemain juga memengaruhi chemistry yang sebelumnya terbangun, terutama setelah Noni Madueke dan Nicolas Jackson meninggalkan klub.

Dengan kondisi tersebut, Palmer masih punya pekerjaan besar untuk membuktikan diri. Jika mampu kembali ke performa terbaiknya, bukan tidak mungkin ia akan kembali menjadi bagian penting timnas Inggris pada turnamen besar berikutnya.

iMedia
iMedia adalah penulis di bawah jaringan Inspira Media, sebuah ekosistem media digital yang berfokus pada penyajian berita, opini, dan informasi aktual secara cepat, akurat, dan relevan.

Rekomendasi untuk Anda

Selengkapnya