Real Madrid Kehilangan Arah, Jose Mourinho Kini Jadi Opsi yang Dinilai Masuk Akal
KOLOMBOLA.COM – Situasi internal Real Madrid kembali menjadi sorotan setelah kabarnya suasana di ruang ganti memanas dalam beberapa pekan terakhir. Menjelang El Clasico akhir pekan ini, Federico Valverde dan Aurelien Tchouameni disebut terlibat insiden di sesi latihan.
Menurut laporan The Athletic, peristiwa itu menjadi gambaran dari musim yang berjalan penuh ketegangan. Real Madrid dinilai belum mampu tampil stabil setelah dua musim beruntun gagal memenuhi ekspektasi di La Liga dan Liga Champions.
Xabi Alonso dan Alvaro Arbeloa disebut sempat berupaya menanamkan disiplin yang lebih kuat di skuad. Namun, usaha tersebut belum cukup untuk meredam ruang ganti yang dipenuhi banyak pemain bintang.
Dalam kondisi seperti ini, Florentino Perez dikabarkan mulai mempertimbangkan sosok pelatih dengan karakter tegas. Nama Jose Mourinho pun kembali mencuat karena dikenal memiliki pendekatan keras dan tidak ragu mengambil keputusan besar terhadap pemain.
Keputusan Perez untuk kembali melirik Mourinho juga menuai kritik. Sebab, presiden Real Madrid itu baru saja memulai proyek bersama Alonso pada musim panas lalu, tetapi disebut cepat kehilangan kesabaran.
Bukan kali pertama Perez membuat perubahan arah secara mendadak. Pada 2018, ia sempat menjadi sorotan setelah menunjuk Julen Lopetegui tepat sebelum Piala Dunia, namun proyek tersebut hanya bertahan 138 hari.
Di sisi lain, pelatih-pelatih tersukses Madrid dalam era modern justru dikenal memiliki pendekatan yang lebih tenang. Vicente del Bosque, Carlo Ancelotti, dan Zinedine Zidane berhasil membawa trofi tanpa memicu konflik besar di ruang ganti.
Real Madrid sendiri sejak lama identik dengan kultur yang menempatkan pemain bintang sebagai pusat perhatian. Mulai dari era galacticos hingga generasi baru seperti Vinicius Junior, Jude Bellingham, Rodrygo, dan Kylian Mbappe, dinamika ruang ganti selalu menjadi isu penting.
Mourinho pernah melatih Real Madrid pada periode 2010 hingga 2013. Masa itu menghadirkan prestasi sekaligus konflik. Ia berhasil mempersembahkan Copa del Rey dan La Liga, serta memutus dominasi Barcelona asuhan Pep Guardiola.
Namun, hubungan Mourinho dengan sejumlah pemain perlahan memburuk. Konflik dengan Iker Casillas dan Sergio Ramos menjadi yang paling dikenal, sementara ketegangan juga melibatkan Cristiano Ronaldo dan Karim Benzema.
Dalam sebuah pernyataan awal tahun ini, Mourinho bahkan menggambarkan periode tersebut sebagai masa yang keras dan intens. Pada musim ketiganya, hubungan dengan skuad disebut semakin retak hingga kedua pihak sama-sama merasa lelah.
Meski namanya masih memiliki daya tarik besar, hasil kerja Mourinho dalam satu dekade terakhir dinilai tak lagi setajam masa keemasannya. Setelah meninggalkan Chelsea untuk kedua kalinya, ia menjalani karier yang naik turun bersama Manchester United, Tottenham, AS Roma, Fenerbahce, hingga Benfica.
Ia memang sempat menambah koleksi trofi dengan menjuarai Liga Europa bersama Manchester United dan Conference League bersama Roma. Namun, pencapaian tersebut belum mampu mengembalikan reputasinya ke level tertinggi.
Di tengah perkembangan sepak bola modern yang banyak dipengaruhi gaya menyerang Pep Guardiola dan intensitas Jurgen Klopp, pendekatan Mourinho dianggap mulai kehilangan relevansi. Ia juga dinilai lebih sering memperlihatkan frustrasi terhadap generasi pemain baru dibanding menginspirasi mereka.
Pertanyaan pun muncul jika benar-benar kembali ke Bernabeu: apakah Mourinho masih mampu sukses di level tertinggi, atau justru Real Madrid sedang mengulangi pola lama yang pernah menimbulkan masalah? Untuk saat ini, spekulasi tersebut masih terus berkembang seiring belum stabilnya kondisi tim ibu kota Spanyol itu.
Rekomendasi untuk Anda
Selengkapnya
