Pep Guardiola Bisa Tinggalkan Manchester City dengan Warisan yang Tak Diraih Ferguson

21 Apr 2026 • 23:20 iMedia

KOLOMBOLA.COM – Manchester City berada dalam posisi unik di tengah masa depan Pep Guardiola yang belum pasti. Di satu sisi, The Citizens masih berpeluang menutup era sang pelatih dengan trofi. Di sisi lain, Guardiola juga tampak berhasil membangun fondasi tim yang masih sangat kompetitif untuk musim-musim mendatang.

Sejarah menunjukkan, perpisahan dengan manajer legendaris tidak selalu berjalan mulus. Sir Alex Ferguson meninggalkan Manchester United pada 2013 sebagai juara Premier League, tetapi skuad yang ditinggalkannya sudah menua. Nama-nama seperti Patrice Evra, Rio Ferdinand, Nemanja Vidic, dan Ryan Giggs berada di fase akhir karier, sehingga transisi ke era David Moyes berjalan sulit.

Situasi serupa, meski dengan nuansa berbeda, juga pernah dialami Liverpool dan Arsenal. Jurgen Klopp memang tidak menutup masa baktinya dengan gelar, tetapi ia meninggalkan skuad yang siap bersaing. Hasilnya, Liverpool mampu meraih gelar liga hanya setahun setelah kepergiannya di bawah Arne Slot.

Arsenal mengalami perjalanan yang lebih panjang lagi. Arsene Wenger pergi tanpa gelar dan tanpa fondasi tim yang benar-benar siap juara. Mikel Arteta harus melakukan perombakan besar sebelum The Gunners kembali menjadi tim yang kompetitif di papan atas.

Manchester City kini berpotensi menghindari masalah serupa. Guardiola tidak hanya membangun tim pemenang, tetapi juga melakukan regenerasi skuad secara bertahap. Dalam 18 bulan terakhir, sejumlah pemain senior seperti Ederson, Kyle Walker, Ilkay Gundogan, dan Kevin De Bruyne mulai tersingkir dari peran utama.

Sebagai gantinya, City memberi ruang bagi pemain muda dan wajah-wajah baru seperti Josko Gvardiol, Abdukodir Khusanov, Nico O’Reilly, Antoine Semenyo, dan Rayan Cherki. Komposisi ini membuat rata-rata usia skuad City berada di angka 26,1 tahun, bahkan lebih muda di susunan starter.

Artinya, proses regenerasi sudah berjalan sebelum era Guardiola berakhir. Dengan struktur seperti ini, City tidak perlu melakukan revolusi besar. Klub hanya perlu melakukan investasi pada posisi tertentu, bukan membangun ulang tim dari nol.

Di tengah ketidakpastian soal masa depan Guardiola, City masih bersaing dalam perebutan gelar. Kemenangan atas Arsenal membuat persaingan klasemen kembali terbuka. Selain itu, City juga masih melaju di FA Cup dan peluang untuk meraih treble domestik tetap terbuka setelah sebelumnya menjuarai Carabao Cup.

Jika skenario itu terwujud, Guardiola bisa menutup masa tugasnya dengan warisan yang langka: pergi sebagai juara, sekaligus meninggalkan tim yang siap terus bersaing. Warisan seperti itu tidak pernah benar-benar didapatkan Ferguson saat meninggalkan Manchester United.

iMedia
iMedia adalah penulis di bawah jaringan Inspira Media, sebuah ekosistem media digital yang berfokus pada penyajian berita, opini, dan informasi aktual secara cepat, akurat, dan relevan.

Rekomendasi untuk Anda

Selengkapnya