Piala Dunia 2026: Mengapa Harga Tiket Sangat Mahal dan Apa Dampaknya?

24 Apr 2026 • 01:15 iMedia

KOLOMBOLA.COM – Gelombang penjualan tiket terbaru Piala Dunia 2026 justru memunculkan kekecewaan di kalangan penggemar sepak bola dunia. Alih-alih disambut antusias, kebijakan harga tiket dinilai terlalu tinggi dan jauh dari ekspektasi awal.

Tiket untuk laga final bahkan disebut mendekati 11.000 dolar AS atau sekitar Rp187 juta. Angka tersebut jelas berada di luar jangkauan sebagian besar penonton dan memicu kritik terhadap strategi penjualan yang diterapkan FIFA.

Pada tahap awal, FIFA sempat menjanjikan tiket mulai dari 21 dolar AS atau sekitar Rp357 ribu. Namun, harga termurah yang tersedia justru berada di kisaran 60 dolar AS atau sekitar Rp1,02 juta, itu pun dengan jumlah yang sangat terbatas.

Kenaikan paling mencolok terlihat pada tiket final. Dari harga awal sekitar 8.680 dolar AS, kini nilainya naik menjadi 10.990 dolar AS. Kondisi ini membuat banyak pihak menilai kebijakan harga FIFA tidak sejalan dengan janji saat proses penunjukan tuan rumah.

Faktor lain yang ikut memengaruhi adalah lokasi penyelenggaraan. Sebagian besar pertandingan Piala Dunia 2026 akan berlangsung di Amerika Serikat, negara dengan pasar olahraga yang sudah sangat matang dan terbiasa dengan harga tinggi untuk ajang premium.

Situasi itu membuat FIFA melihat peluang besar untuk memaksimalkan pendapatan. Namun, dampaknya tidak hanya dirasakan penonton di Amerika Serikat, melainkan juga suporter dari negara lain yang harus mengikuti standar harga yang sama.

FIFA juga menerapkan sistem dynamic pricing atau harga dinamis. Dalam skema ini, harga tiket bisa berubah secara real-time bergantung pada permintaan, ketersediaan, dan waktu pembelian.

Model tersebut umum digunakan di industri olahraga Amerika Serikat, tetapi penerapannya di ajang sebesar Piala Dunia menuai perdebatan. Banyak yang menilai sistem ini kurang ramah bagi penggemar biasa karena lebih mengutamakan potensi keuntungan.

Di sisi lain, harga yang tinggi juga memunculkan risiko tiket tidak laku. Meski FIFA tetap optimistis seluruh tiket akan terserap pasar, data penjualan awal menunjukkan sejumlah pertandingan belum mencapai target yang diharapkan.

Jika minat terus melemah, bukan tidak mungkin harga akan mengalami penyesuaian. Namun, pada saat yang sama, sebagian penggemar bisa saja memilih mundur karena merasa harga tiket sudah terlalu mahal.

Dengan kondisi tersebut, Piala Dunia 2026 kini menghadapi tantangan untuk menjaga keseimbangan antara keuntungan komersial dan aksesibilitas bagi penggemar. Bila tidak dikelola dengan baik, pengalaman menyaksikan turnamen secara langsung berisiko menjadi semakin eksklusif.

iMedia
iMedia adalah penulis di bawah jaringan Inspira Media, sebuah ekosistem media digital yang berfokus pada penyajian berita, opini, dan informasi aktual secara cepat, akurat, dan relevan.

Rekomendasi untuk Anda

Selengkapnya