Prahara di Balik Pemecatan Liam Rosenior: Rekor Buruk hingga Frustrasi di Ruang Ganti Chelsea
KOLOMBOLA.COM – Liam Rosenior harus mengakhiri masa kerjanya di Chelsea setelah rentetan hasil buruk yang membuat manajemen tak punya banyak pilihan. Dalam 23 pertandingan, ia hanya mampu mempersembahkan 11 kemenangan, catatan yang sempat terlihat cukup kompetitif sebelum performa tim merosot tajam.
Puncak krisis terjadi ketika Chelsea menelan lima kekalahan beruntun tanpa mencetak gol. Catatan itu menjadi yang terburuk bagi klub sejak 1912, tahun tenggelamnya Titanic, dan menjadi anomali dalam sejarah panjang The Blues.
Kekalahan 0-3 dari Brighton menjadi penentu akhir masa jabatan Rosenior. Dalam laga tersebut, Chelsea bahkan tak mampu mencatat satu pun tembakan tepat sasaran, dengan nilai expected goals atau xG hanya 0,4.
Angka itu menggambarkan betapa tumpulnya lini serang Chelsea dalam beberapa pekan terakhir. Minimnya kreativitas dan efektivitas membuat masalah tim tak kunjung menemukan solusi.
Rentetan lima laga tanpa gol bukan sekadar soal statistik. Kondisi tersebut menunjukkan rapuhnya struktur permainan yang sempat menjanjikan pada awal kedatangan Rosenior.
Manajemen akhirnya mengambil keputusan cepat untuk menghentikan tren negatif itu. Stabilitas tim menjadi prioritas utama menjelang fase akhir musim.
Di balik performa buruk tersebut, muncul pula laporan soal ketegangan di ruang ganti. Sejumlah sumber menyebut Rosenior menjadi sosok yang memicu frustrasi di kalangan pemain.
Pandangan terhadap Rosenior memang terbelah. Sebagian pemain menilai dirinya ramah dan profesional, tetapi tidak sedikit yang merasa pendekatannya kurang cocok.
Beberapa pemain, terutama yang berbahasa Spanyol, disebut lebih nyaman bekerja di bawah Enzo Maresca. Hal itu tercermin dari pernyataan Marc Cucurella dan Enzo Fernandez dalam wawancara mereka.
Keputusan rotasi pemain, termasuk kebijakan terhadap penjaga gawang serta menit bermain Josh Acheampong, juga menimbulkan ketidakpuasan. Situasi makin rumit ketika para pemain senior cenderung pasif dalam forum internal tim, yang mencerminkan kurang solidnya kepemimpinan di dalam skuad.
Dengan kombinasi hasil buruk dan dinamika internal yang tidak stabil, pemecatan Rosenior pada akhirnya dianggap menjadi langkah yang tak terhindarkan bagi Chelsea.
Rekomendasi untuk Anda
Selengkapnya
