Membedah Masalah Arsenal: Terlalu Aman, Minim Risiko, dan Sulit Menang

17 Apr 2026 • 16:41 iMedia

KOLOMBOLA.COM – Pelatih asal Spanyol itu menyinggung faktor sederhana namun krusial: keberanian mengambil risiko dan mendorong keberuntungan. Menurutnya, kualitas tim saja tidak cukup tanpa dorongan mental untuk menciptakan momen penentu.

Dalam beberapa pekan terakhir, performa Arsenal justru menunjukkan arah sebaliknya. Mereka terlihat solid, tetapi kurang menggigit. Dari situ, masalah yang lebih dalam mulai terlihat.

Arteta menegaskan bahwa menjadi juara bukan hanya soal kualitas, tetapi juga soal bagaimana tim “memaksa” keberuntungan datang. Ia mencontohkan gol Vincent Kompany ke gawang Leicester pada 2019 sebagai momen yang lahir dari keberanian.

Menurut Arteta, banyak hal memang harus berjalan sesuai rencana, tetapi tim juga perlu mendorong faktor keberuntungan itu sendiri. Dalam konteks Arsenal, hal tersebut dinilai belum terjadi musim ini.

Sepanjang musim, Arsenal lebih sering bermain aman. Mereka mengandalkan struktur permainan yang rapi, tetapi jarang mengambil risiko yang bisa membuka peluang lebih besar. Pendekatan ini membuat mereka stabil, namun kurang tajam di momen krusial.

Ketika kekurangan dalam penguasaan bola mulai menghambat serangan sejak awal, fokus tim pun bergeser hanya pada upaya memenangkan pertandingan secara pragmatis, bukan menciptakan dominasi.

Serangan Mandek dan Minim Kreativitas

Masalah Arsenal semakin terlihat dari data performa mereka. Dalam laga melawan Bournemouth, mereka hanya mencatat expected goals sebesar 0,18 dari open play, angka yang sangat rendah untuk tim papan atas.

Peluang yang tercipta pun tidak berasal dari pola permainan yang matang. Dua percobaan jarak jauh Declan Rice dan peluang terlambat dari Viktor Gyokeres menjadi gambaran betapa terbatasnya kreativitas mereka.

Permainan Arsenal dalam beberapa laga terakhir juga menunjukkan pola yang sama. Saat melawan Sporting di Lisbon mereka bermain lambat, menghadapi Southampton penuh kesalahan, dan ketika bertemu Manchester City terlihat mudah dikendalikan.

Kondisi ini mencerminkan stagnasi. Arsenal tidak lagi menunjukkan variasi serangan yang cukup untuk membongkar pertahanan lawan secara konsisten.

Minim Pergerakan Tanpa Bola, Serangan Mudah Dibaca

Salah satu masalah paling mencolok adalah kurangnya pergerakan tanpa bola. Para penyerang Arsenal jarang melakukan lari di belakang garis pertahanan lawan saat rekan setim menguasai bola.

Padahal, pergerakan semacam itu penting untuk membuka ruang, meski tidak selalu berujung pada umpan. Tanpa pergerakan ini, pertahanan lawan bisa tetap terorganisir dan mudah membaca arah serangan.

Situasi tersebut terlihat jelas saat melawan Bournemouth. Ketika Martin Zubimendi menerima bola dan mencari opsi ke depan, hampir tidak ada pergerakan dari Gabriel Martinelli, Viktor Gyokeres, maupun Kai Havertz.

Akibatnya, serangan terhenti sebelum berkembang. Zubimendi bahkan terpaksa memutar arah dan memainkan bola ke samping, tanda bahwa tidak ada progresi berarti dalam fase menyerang.

Transisi Lambat dan Build-up Kurang Tajam

Arsenal juga dinilai kurang efektif dalam situasi serangan balik. Sepanjang musim ini, mereka hanya mencatat 32 fast break dan mencetak empat gol dari situasi tersebut.

Sebagai perbandingan, Manchester City mencatat 41 fast break dengan sembilan gol, meski dikenal sebagai tim dengan build-up paling lambat di liga. Perbedaan ini menegaskan efektivitas yang belum dimiliki Arsenal.

Gaya bermain Arsenal memang cenderung sabar. Mereka lebih sering mengalirkan bola dengan banyak sentuhan dibanding bermain langsung. Namun, bermain cepat tidak selalu berarti harus langsung panjang ke depan.

Pada periode terbaiknya, Arsenal dikenal dengan kombinasi umpan pendek cepat dan progresif. Kini, pola tersebut jarang terlihat, terutama dalam distribusi bola dari lini belakang yang kurang mampu menembus garis pertahanan lawan.

Absennya Kreator dan Ketergantungan pada Odegaard

Faktor cedera juga turut memengaruhi performa Arsenal. Beberapa pemain kunci di lini tengah absen secara bersamaan sejak pergantian tahun, dan ini berdampak besar pada kreativitas tim.

Martin Odegaard, meski hanya bermain sekitar 37,4 persen dari total menit di Premier League musim ini, tetap menjadi salah satu kreator utama dengan 28 peluang dari open play. Ia bahkan menempati posisi kedua dalam statistik through ball per 90 menit.

Ketergantungan pada Odegaard menjadi semakin jelas saat ia tidak tersedia. Arsenal kehilangan pemain yang mampu mengambil risiko dalam bentuk umpan terobosan atau keputusan progresif.

Jika dibandingkan, pemain seperti Rayan Cherki di Manchester City tampil lebih berani dan bebas. Keberanian tersebut membuatnya menjadi salah satu kreator paling produktif musim ini, sekaligus memberi dimensi berbeda dalam serangan timnya.

iMedia
iMedia adalah penulis di bawah jaringan Inspira Media, sebuah ekosistem media digital yang berfokus pada penyajian berita, opini, dan informasi aktual secara cepat, akurat, dan relevan.

Rekomendasi untuk Anda

Selengkapnya