KOLOMBOLA.COM – IFAB bersama FIFA menyiapkan aturan baru yang bakal diterapkan di Piala Dunia 2026. Salah satu perubahan paling menonjol adalah larangan menutup mulut saat berdebat dengan lawan, yang dalam kondisi tertentu bisa berujung kartu merah langsung.
Keputusan itu dibahas dalam pertemuan khusus di Vancouver. Dewan International Football Association Board (IFAB) sepakat memperketat sanksi terhadap perilaku yang dianggap tidak pantas di lapangan, terutama yang berkaitan dengan tindakan diskriminatif.
Aturan ini muncul setelah insiden panas di Liga Champions UEFA pada awal tahun. Saat itu, pemain Real Madrid Vinicius Junior terlibat konflik dengan Gianluca Prestianni. Vinicius menuding adanya pelecehan rasial, sementara Prestianni merespons dengan menutup mulutnya menggunakan jersi ketika adu argumen berlangsung.
“Atas kebijaksanaan penyelenggara kompetisi, setiap pemain yang menutupi mulutnya dalam situasi konfrontatif dengan lawan dapat disanksi dengan kartu merah,” bunyi pernyataan resmi IFAB.
UEFA kemudian menjatuhkan hukuman larangan bermain enam pertandingan kepada Prestianni. Sanksi itu diberikan setelah ia mengakui penggunaan hinaan homofobik, meski tetap membantah tuduhan rasial.
Presiden FIFA Gianni Infantino menilai aturan tersebut penting untuk memberi efek jera. Menurutnya, pemain yang tidak memiliki sesuatu untuk disembunyikan seharusnya tidak perlu menutup mulut saat berbicara.
“Kalau kamu tidak menyembunyikan apa-apa, kamu tidak perlu menutup mulut saat berbicara. Sesederhana itu,” kata Infantino.
“Jika seorang pemain menutup mulutnya dan mengatakan sesuatu yang berdampak rasis, maka dia jelas harus dikeluarkan dari lapangan. Harus ada anggapan bahwa dia mengatakan sesuatu yang tidak seharusnya,” tambahnya.
Meski begitu, keputusan akhir tetap berada di tangan wasit. Mereka harus menilai situasi secara langsung sebelum menjatuhkan kartu merah.
Selain soal perilaku konfrontatif, FIFA juga memperketat aturan terhadap pemain yang meninggalkan lapangan sebagai bentuk protes. Langkah ini diambil untuk mencegah aksi mogok yang bisa mengganggu jalannya pertandingan.
Kebijakan tersebut merujuk pada insiden di final Piala Afrika pada Januari lalu, ketika timnas Senegal sempat keluar lapangan setelah timnas Maroko mendapat penalti pada masa tambahan waktu.
“Tim yang menyebabkan suatu pertandingan dihentikan pada prinsipnya akan dinyatakan kalah WO (forfeit) dalam laga tersebut,” tegas IFAB.
Wasit juga diberi kewenangan untuk memberikan kartu merah kepada pemain yang terlibat dalam aksi mogok. Ofisial tim yang memprovokasi tindakan itu pun bisa ikut dijatuhi sanksi.
Di sisi lain, FIFA turut menyiapkan perubahan pada sistem akumulasi kartu kuning. Skema pemutihan kartu kuning ganda tengah dipertimbangkan agar pemain kunci tetap bisa tampil pada laga-laga penting di fase akhir turnamen.
Piala Dunia 2026 yang menggunakan format lebih panjang membuat beban fisik pemain meningkat. Karena itu, FIFA berencana menerapkan aturan baru ini pada edisi musim panas tahun depan di tiga negara tuan rumah.
Dalam waktu dekat, FIFA akan mengirim panduan teknis kepada seluruh peserta agar setiap tim memahami regulasi baru tersebut sebelum turnamen dimulai.
Dengan sederet perubahan ini, Piala Dunia 2026 diperkirakan akan menghadirkan standar disiplin yang lebih ketat demi menjaga integritas pertandingan.




