10 Persaingan Gelar Juara Premier League Paling Ikonik Sepanjang Masa

13 Apr 2026 • 13:59 iMedia

KOLOMBOLA.COM – Perebutan gelar juara selalu menjadi bumbu utama dalam sepak bola, dan Premier League hampir selalu menyajikannya dengan drama tinggi. Tak banyak pencapaian domestik yang terasa lebih membanggakan daripada mengangkat trofi liga ini, terlebih karena Premier League kini dikenal sebagai salah satu kompetisi tersulit di dunia.

Lalu, apa yang membuat sebuah persaingan gelar layak disebut ikonik? Bisa karena ada tim yang membuang keunggulan besar, munculnya kuda hitam yang mengganggu dominasi raksasa, atau pertarungan sengit yang baru selesai hingga pekan terakhir.

Berikut 10 persaingan gelar Premier League paling berkesan sepanjang masa.

Musim ini dikenang berkat komentar pedas Alan Hansen di awal kompetisi: “Anda tidak bisa memenangkan apa pun dengan anak-anak.” Saat itu, Manchester United yang berisi banyak pemain muda baru saja kalah dari Aston Villa.

Newcastle United asuhan Kevin Keegan sempat tampak akan menjadi juara setelah unggul 12 poin ketika kompetisi menyisakan 15 laga. Namun, kembalinya Eric Cantona dari skorsing panjang mengubah arah persaingan. United terus mengejar, sementara Newcastle mulai kehilangan tenaga. Wawancara emosional Keegan menjadi salah satu momen paling terkenal, sebelum Manchester United akhirnya juara dengan keunggulan empat poin.

Musim ini sebenarnya punya potensi menjadi yang terbaik, meski pada akhirnya pemenangnya bisa ditebak lebih cepat. Awalnya ada tiga tim yang bersaing ketat, namun Liverpool mulai kehilangan momentum pada April.

Arsenal tampil luar biasa dengan memenangkan 16 dari 18 pertandingan terakhir. Namun, mereka harus menghadapi Manchester City yang tampil sangat konsisten dan tidak terkalahkan sejak Desember. Meski Arsenal memberi tekanan besar hingga pekan terakhir, City tetap tenang dan menuntaskan musim dengan gelar juara.

Persaingan ini memadukan juara yang tak terduga dengan drama hari terakhir yang menegangkan. Blackburn Rovers, yang saat itu didukung pemilik kaya Jack Walker, mengandalkan duet tajam Alan Shearer dan Chris Sutton.

Di laga terakhir, Blackburn kalah dari Liverpool. Para pendukung dan pelatih Kenny Dalglish sempat cemas menanti hasil Manchester United kontra West Ham. Jika United menang, gelar akan lepas. Untung bagi Blackburn, United hanya bermain imbang, dan mereka pun merayakan gelar juara.

Persaingan dua tim memang seru, tetapi tiga tim membuat situasinya jauh lebih rumit. Manchester United, Arsenal, dan Chelsea saling menekan sepanjang musim. Chelsea sempat memimpin di pertengahan musim, tetapi performa mereka menurun pada April.

United akhirnya memastikan gelar pada hari terakhir setelah menaklukkan Tottenham. Kemenangan itu menjadi awal dari sejarah besar mereka meraih Treble, sebelum kemudian menambah trofi FA Cup dan Liga Champions.

Chelsea berhasil menjegal dominasi Manchester United di bawah Carlo Ancelotti. The Blues tampil sangat tajam sepanjang musim. Titik penting terjadi saat mereka menang 2-1 di Old Trafford pada April. Chelsea lalu mengunci gelar pada pekan terakhir lewat kemenangan telak 8-0 atas Wigan.

Persaingan ini tergolong luar biasa karena menghadirkan level poin yang sangat tinggi. Manchester City dan Liverpool sama-sama tampil nyaris tanpa cela.

Di hari terakhir, City mengoleksi 95 poin, sementara Liverpool 94 poin. City sempat tertinggal dari Brighton, yang membuat fans Liverpool sempat berharap. Namun, pasukan Pep Guardiola bangkit dan menang 4-1. Liverpool harus puas finis sebagai runner-up dengan 97 poin, jumlah yang biasanya sudah cukup untuk menjadi juara di musim lain.

Kisah Leicester City adalah dongeng terbesar dalam sejarah sepak bola. Meski mereka akhirnya unggul 10 poin, musim itu terasa sangat menegangkan karena banyak yang menunggu kapan mereka akan tergelincir.

Tantangan terdekat datang dari Tottenham, tetapi mereka justru melemah di fase akhir musim. Gelar Leicester dipastikan lewat hasil imbang Tottenham melawan Chelsea dalam laga yang dikenal sebagai “Battle of the Bridge”. Leicester, yang musim sebelumnya hampir terdegradasi, justru keluar sebagai juara.

Tak ada drama hari terakhir yang bisa menandingi momen “Aguerooooo”. Manchester United sempat unggul delapan poin ketika liga menyisakan enam pertandingan, tetapi keunggulan itu terbuang.

Pada laga terakhir, Manchester City wajib menang atas QPR. United sudah lebih dulu menyelesaikan pertandingan dengan kemenangan, sementara City masih tertinggal 1-2 saat memasuki masa injury time. Edin Dzeko menyamakan skor, lalu Sergio Aguero mencetak gol penentu di detik-detik akhir yang mengubah sejarah Premier League.

Ini juga menjadi persaingan tiga arah antara Manchester United, Chelsea, dan Arsenal. Arsenal sempat lama memimpin, tetapi kehilangan Eduardo akibat cedera parah pada Februari mengubah situasi.

Persaingan kemudian mengerucut menjadi United dan Chelsea yang dipimpin Avram Grant. Chelsea sempat menang atas United di Stamford Bridge, sehingga poin kedua tim sama di hari terakhir. Namun, United unggul selisih gol dan memastikan gelar setelah menundukkan Wigan 2-0.

Musim ini selalu diingat fans Liverpool dengan rasa sakit yang mendalam. Tim asuhan Brendan Rodgers tampil luar biasa lewat duet Luis Suarez dan Daniel Sturridge, hingga sempat berada di ambang juara setelah mengalahkan Manchester City 3-2.

Namun, segalanya berubah saat Steven Gerrard terpeleset dalam laga melawan Chelsea dan Liverpool kalah. Setelah itu, mereka juga membuang keunggulan 3-0 menjadi 3-3 melawan Crystal Palace. Manchester City memanfaatkan situasi itu dengan menyapu bersih sisa pertandingan untuk merebut gelar dari genggaman Liverpool.

iMedia
iMedia adalah penulis di bawah jaringan Inspira Media, sebuah ekosistem media digital yang berfokus pada penyajian berita, opini, dan informasi aktual secara cepat, akurat, dan relevan.

Rekomendasi untuk Anda

Selengkapnya