KOLOMBOLA.COM – Como meraih kemenangan meyakinkan 4-1 atas Leipzig dalam laga yang memperlihatkan rapuhnya pertahanan tim tamu. Martin Baturina dan Tasos Douvikas membawa Como unggul dua gol pada babak pertama, sebelum Assane Diao menambah keunggulan setelah jeda. Leipzig sempat membalas lewat Andrija Maksimovic, tetapi Maximo Perrone memastikan kemenangan tuan rumah lewat gol pada menit ke-90.
Leipzig sebenarnya memulai babak kedua dengan lebih agresif dan mampu menekan Como ke area pertahanan mereka. Namun, gol Diao ketika Leipzig tengah berada dalam fase terbaik justru menjadi pukulan besar yang menghambat upaya kebangkitan tim tamu.
Pelatih Leipzig, Martin Demichelis, menilai masalah utama timnya ada pada organisasi bertahan tanpa bola. Ia mengakui persiapan yang dilakukan sebelum pertandingan belum cukup untuk meredam pergerakan para pemain Como.
"Ini pertandingan yang sulit malam ini. Saya pikir kami bertahan dengan sangat buruk," ujar Demichelis kepada UEFA. "Kami sudah mempelajari bagaimana mereka bergerak, melakukan rotasi, dan mengatur posisi, tetapi dalam banyak fase pertandingan kami bertahan dengan buruk tanpa bola," lanjutnya.
Leipzig juga tidak mampu memaksimalkan penguasaan bola pada babak pertama untuk menciptakan ancaman yang lebih besar. Situasi itu membuat mereka kesulitan menjaga keseimbangan permainan dan memberikan ruang bagi Como untuk terus menekan.
Demichelis menilai Leipzig sebenarnya tampil lebih baik setelah turun minum. Penguasaan bola yang lebih rapi dan dorongan ke area lawan sempat membuka peluang bagi timnya untuk kembali ke pertandingan.
"Kami memulai babak kedua dengan sangat baik, menggerakkan bola dan mendorong mereka ke wilayah sendiri. Namun, ketika kami sedang berada dalam kondisi terbaik, mereka mencetak gol melalui serangan pertama mereka," kata Demichelis.
Pelatih asal Argentina itu menilai gol Diao berdampak besar terhadap mental para pemainnya. Meski Leipzig terus berupaya menguasai pertandingan dan mencari celah, organisasi pertahanan mereka tetap belum cukup baik untuk menghentikan serangan Como.
Demichelis juga menyoroti bahwa kualitas Como bukan satu-satunya alasan kekalahan telak tersebut. Menurutnya, perbedaan terbesar justru terletak pada kematangan kerja sama kedua tim.
"Como adalah tim yang melakukan rotasi dengan sangat baik dan sudah memiliki identitas yang sama selama tiga tahun. Kami baru mulai membentuk gaya bermain, dengan banyak pemain yang datang pada akhir bursa transfer dan baru bekerja bersama selama satu atau dua pekan," ujarnya.
Kekalahan 1-4 ini menjadi pekerjaan besar bagi Leipzig untuk segera melakukan pembenahan, terutama pada organisasi pertahanan. Sementara itu, Como mendapat modal berharga dari hasil positif tersebut dalam perjalanan mereka di Liga Champions.
Leipzig kini dituntut segera menemukan solusi sebelum laga berikutnya agar tidak kembali kehilangan poin di fase awal kompetisi.




