KOLOMBOLA.COM – AC Milan mencatat kerugian untuk pertama kalinya sejak era RedBird dimulai. Dalam laporan keuangan musim 2025/26, klub asal Kota Milan itu membukukan rugi bersih sekitar €24 juta.
Hasil tersebut mengakhiri tren positif yang sebelumnya berlangsung selama tiga musim terakhir. Sebelumnya, Milan mencatat laba €6,1 juta pada 2022/23, €4,10 juta pada 2023/24, dan €3 juta pada 2024/25.
Absennya Milan dari Liga Champions dan Liga Europa menjadi faktor utama yang memengaruhi kondisi keuangan tersebut. Meski klub masih meraih keuntungan modal dalam jumlah besar, pemasukan itu belum cukup untuk menjaga neraca tetap positif.
Dalam pernyataan resminya, Milan menegaskan pendapatan klub tetap berada di level tinggi meski tanpa tampil di kompetisi Eropa. Klub mencatat pendapatan sebesar €464,6 juta, hanya turun 6 persen dibanding musim sebelumnya.
“AC Milan mencatatkan pendapatan sebesar €464,6 juta selama tahun fiskal 2025/26, mempertahankan kinerja yang mendekati rekor tertinggi yang dicapai pada dua musim sebelumnya. Pendapatan meningkat sebesar 1,7% dibandingkan musim 2023/24 dan hanya terpaut 6% di bawah angka musim 2024/25, akibat absennya partisipasi dalam kompetisi Eropa,” tulis klub.
Milan juga menyoroti kinerja sektor komersial yang terus meningkat. Pendapatan sponsor klub bahkan melampaui €100 juta untuk pertama kalinya dalam sejarah Rossoneri.
Di sisi lain, performa pada hari pertandingan tetap solid. Milan mencatat rata-rata kehadiran lebih dari 72.000 penonton per laga, sekaligus menjadi klub dengan rata-rata penonton tertinggi di Serie A selama dua musim beruntun. Nilai merek klub juga mencapai rekor €514 juta pada 2026.
Dalam laporan yang sama, Milan menyebut utang keuangan bersih per akhir tahun berada di angka €145,3 juta, naik dari sekitar €92 juta pada tahun fiskal sebelumnya. Sementara itu, ekuitas pemegang saham tercatat sebesar €176,4 juta.
Meski merugi, Milan menilai laporan tersebut tetap menunjukkan ketahanan model bisnis klub. Pertumbuhan pendapatan komersial dan kuatnya nilai merek disebut sebagai fondasi penting untuk menjaga stabilitas keuangan di tengah absennya kompetisi Eropa.




