KOLOMBOLA.COM – Paris Saint-Germain datang ke final Liga Champions dengan status juara bertahan setelah mengangkat trofi pada musim lalu bersama Luis Enrique. Jika kembali menjadi kampiun, PSG akan mencatat prestasi langka sebagai tim pertama sejak Real Madrid pada musim 2017/2018 yang mampu mempertahankan gelar.
Optimisme pun sudah terasa di kubu Paris menjelang laga puncak tersebut. Saat laga internal akhir pekan lalu, pendukung PSG membentangkan spanduk besar bertuliskan, “Sekali itu bersejarah, dua kali itu legendaris.”
Sepanjang fase gugur musim ini, PSG tampil sangat produktif. Tim asal ibu kota Prancis itu mencetak 23 gol di fase knockout dan total 44 gol sepanjang perjalanan menuju final. Ketajaman lini depan menjadi salah satu kekuatan utama skuad Luis Enrique, dengan permainan agresif dan cepat yang konsisten terlihat sejak babak 16 besar hingga semifinal.
Alex Clementson, reporter PSG untuk UEFA.com, menilai tim ini menunjukkan keseimbangan yang semakin matang. Ia menyebut PSG kini bukan hanya tajam dalam menyerang, tetapi juga memiliki identitas permainan yang lebih stabil dan terukur.
Selain produktif, PSG juga memperlihatkan perkembangan penting di lini belakang. Itu terlihat ketika mereka mampu meredam Bayern Munchen pada leg kedua semifinal Liga Champions. Disiplin bertahan tersebut menunjukkan bahwa PSG tidak lagi hanya bergantung pada serangan cepat, tetapi juga mampu mengontrol tekanan lawan dengan lebih baik.
Keseimbangan antara agresivitas dan ketenangan menjadi modal penting bagi PSG saat menghadapi Arsenal di final. Jika dua aspek itu kembali muncul di Budapest, PSG berpeluang besar mempertahankan gelar dan menempatkan diri di jajaran elite Eropa.
Keberhasilan menjuarai Liga Champions dua musim beruntun akan membuat PSG masuk dalam kelompok klub istimewa. Mereka berpeluang menjadi tim pertama setelah Real Madrid yang mampu mempertahankan trofi Liga Champions di era modern.




